4 Hal Mendasar Persiapan Ibadah Haji dan Umroh

persiapan-ibadah-haji-dan-umroh

Persiapan Ibadah Haji dan Umroh. Ada empat hal mendasar yang harus dipersiapan para calon jamaah haji dan umroh melaksanakan Ibadahnya. Yaitu kesiapan kesehatan, finansial, keamanan dan kenyamanan lahir bathin.

Faktor Kesehatan Dalam Ibadah Haji dan Umroh

Kesehatan adalah anugerah Allah. Orang yang tidak diberi anugerah ini berarti Allah Swt telah menjaminnya sesuai dengan rahmat-Nya. Oleh sebab itu, dia tidak dibebani untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban agama. Ia tidak diwajibkan shalat kecuali sesuai dengan batas kemampuannya, meskipun itu dengan hati. Ia juga tidak diwajibkan mengerjakan puasa atau haji sampai penghalang atau uzur yang menghalanginya itu hilang. Tetapi, ia tetap diwaibkan untuk melaksanakan ibadah-ibadah pengganti, semisal tayammum, memberi makan fakir miskin, atau menggantinya (mengulanginya) di lain waktu.

Hanya hamba-hamba Allah yang memiliki hati bening dan jernih yang bisa mendapatkan rahmat-Nya. Dikisahkan bahwa sebagian hamba akan mendapati beberapa amal yang tidak pernah mereka kerjakan di dunia justru tertulis didalam lembaran-lembaran amal kebaikan mereka di hari perhitungan. Dikatakan kepada mereka bahwa itu adalah niat tulus dan keinginan kuat mereka untuk mengerjakan kebaikan-kebaikan selama hidup di  dunia, meskipun pada akhirnya hal itu tidak terlaksana karena mereka belum mampu mengerjakannya dan belum diberi kesempatan oleh Allah Swt. Ketika mereka sudah berniat tapi belum mampu mengerjakannya, Allah Swt telah menuliskan pahala untuk mereka hanya karena niat tulus yang mereka miliki. Tidaklah aneh jika seorang muslim hendaknya berdoa kepada Allah Swt. agar diberi kesempatan  untuk mengunjungi rumah-Nya di Makkah, tapi dengan niat tulus dan tanpa pamrih. Sesungguhnya Allah Mahakuasa untuk memudahkan persoalan hamba-hamba-Nya.

Dari sini bisa disimpulkan bahwa kesehatan adalah salah satu faktor yang bisa menghambat seorang muslim menjalankan ibadah haji. Kesehatan atau adanya biaya yang mencukupi menjadi semacam pembenar bagi sesorang untuk mengerjakan ibadah haji. Tidak adanya faktor kesehatan membuat kewajiban menjalankan ibadah haji tidak wajib dikerjakan atau ditangguhkan untuk sementara waktu sampai faktor kesehatan ada.

 

Faktor Finansial Dalam Ibadah Haji dan Umroh

Yang dimaksud faktor finansial adalah kemampuan materi. Apakah dia sudah mempunyai biaya transportasi dan akomodasi yang cukup untuk pergi ke Makkah selama beberapa hari? Jika memang sudah punya, dia tinggal memastikan bahwa harta yang akan digunakannya itu benar-benar didapatkan dari jalan yang halal, tidak dari hasil menipu, tidak ada hak anak yatim dan istri didalamnya, bukan harta yang masih syubhat atau riba. Artinya, harta itu harus didapatkannya dari pekerjaan yang halal dan diridhai Allah Swt, atau dari pekerjaan yang dimaksudkan untuk mewujudkan kemaslahatan bersama, atau dari harta warisan yang halal yang sudah tidak menjadi hak orang lain.

Bagaimana mungkin seseorang yang menggunkan harta orang lain, orang fakir, dan anak yatim berani bertamu kepada Tuhan semesta alam yang Mahaadil, Mahakuasa menghentikan kezaliman, dan Maha Menindak kaum zalim?! Oleh karena itu, tidak ada kewajiban haji bagi orang yang masih menyandang utang, baik kepada Allah maupun kepada sesama manusia. Tidak ada kewajiban haji  pula bagi orang yang masih berkewajiban memberi nafkah orang lain, semisal istri dan keluarganya. Bahkan, seandainya seseorang memiliki harta yang hanya cukup digunakan untuk biaya haji dan atau biaya nikah, sementara ia sendiri takut akan terjerumus ke jurang perzinahan jika tidak menikah, harta itu wajib dipergunakannya untuk biaya nikah terlebih dahulu, bukan untuk biaya haji.

 

Faktor Keamanan Dalam Ibadah Haji dan Umroh

Artinya, harus ada jaminan keselamatan bagi diri dan harta seorang muslim yang pergi haji, selain bahwa keputusannya untuk pergi haji itu tidak menyebabkan timbulnya fitnah-sebagaimana seorang perempuan yang pergi haji sendirian tanpa didampingi mahramnya.

Oleh sebab itu, kalangan fukaha menambahkan syarat lain bagi perempuan yang akan pergi haji, yakni harus didampingi mahramnya atau teman perempuan yang bisa dipercaya.

 

Persiapan Lahir dan Batin Dalam Ibadah Haji dan Umroh

Sebelum mengerjakan rangkaian ibadah haji, seorang mukmin harus “mandi” terlebih dahulu agar bersih dari kotoran-kotoran duniawi, seperti ketamakan, kezaliman, kedengkian, dan semacamnya. Ia juga harus berihram menngendakan selendang putih tanpa jahitan sebagai persiapan untuk berpindah dari dunia pangkat dan jabatan menuju dunia ketauhidan memenuhi panggilan ilahi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *