Madinah Sebagai Kota Iman dan Pemerintahan Nabi

Madinah tidak hanya sebagai kota iman. Madinah juga dikenal sebagai kota pemerintahan. Selama 10 tahun di Madinah, Muhammad SAW telah membangun sebuah tatanan masyarakat yang menyerupai sebuah Negara bangsa, terutama dari aspek konstitusinya. Keberhasilan Nabi melahirkan sebuah konstitusi yang spektakuler tersebut tidak lain berangkat dari nilai-nilai yang telah memperkokoh fondasi kehidupan sosial-politik.

Madinah Sebagai Kota Iman

Prinsip utama yang diperlukan dalam membangun sebuah masyarakat melalui jalur sosial politik adalah musyawarah. Seorang pemimpin meniscayakan keterlibatan banyak pihak dalam menampung pendapat untuk kemaslahatan bersama. Dan itu memerlukan diskusi dan konsultasi diantara pihak-pihak yang bertanggung jawab dan terlibat aktif dalam memecahkan setiap persoalan. Nabi menerapkan musyawarah dalam banyak hal, terutama dalam hal-hal genting, seperti menyusun strategi perang. Sebelum melaksanakan perang badar, Nabi meminta kepada para sahabat dan pengikutnya agar melakukan musyawarah sebelum memutuskan sesuatu. Nabi bersabda, seorang yang suka bermusyawarah, maka orang tersebut dapat dipercaya (HR. Turmudzi).

Umar bin Abdul Aziz (717-720 M) menegaskan, bahwa musyawarah dan tukar menukar pendapat merupakan pintu kemuliaan dan pintu berkah. Musyawarah akan membantu untuk menjadikan sebuah pendapat semakin kuat dan bermakna, serta tidak kehilangan arah tujuan utamanya, yaitu kemaslahatan umat. Sedangkan Imam Ali (w. 661) menegaskan, bahwa kenikmatan yang terbesar dalam kebersamaan ada pada musyawarah. Sedangkan petaka ada dalam kediktatoran.

Musyawarah yang menjadi fondasi kehidupan sosial politik di Madinah telah memberikan inspirasi yang dalam bagi perjalanan dinasti islam. Bahkan dalam mengembangkan system demokrasi modern, musyawarah sangat diperlukan. Meskipun dengan berbagai pemaknaan ulang, seperti perlunya spirit kesetaraan. Musyawarah akan membuahkan sebuah hasil yang dapat memenuhi keinginan sebagian besar publik harus menjamin keterwakilan pandangan setiap kelompok. Kekuatannya bukan pada kuantitas pengusul ide, tetapi pada kualitas ide itu sendiri.

Keadilan merupakan prinsip yang sangat penting dalam sosial politik. Jika keadilan dijadikan sebagai panduan utama dalam menerapkan kebijakan publik, maka masyarakat akan merasakan manfaat dari apa yang sudah diputuskan oleh pemimpin mereka. Dalam hal ini Allah SWT berfirman, Sesungguhnya Allah SWT menyerukan pada keadilan, kebajikan, kepedulian orang terdekat, serta menjauhi keburukan, kemunkaran, dan kezaliman. Tuhan mengingatkan kalian agar kalian selalu ingat (QS. Al-Nahl [16]: 90).

Ayat ini merupakan salah satu ayat kerapkali dibacakan oleh khatib jumat setiap minggu, terutama sebelum menutup khutbah. Itu artinya, pesan keadilan yang mendarah daging pada setiap umat, terutama para pemimpin. Berlaku adil bukan hanya amanat konstitusi, tetapi lebih dari itu adalah amanat Tuhan. Sebab itu, Nabi menjadikan keadilan sebagai salah satu fondasi dalam rangka membangun masyarakat Madinah.

Yang terakhir adalah asketisme. Seorang pemimpin harus menjauhi dirinya dari kehidupan glamour, yang terlalu rakus terhadap kemegahan duniawi. Kehidupan Nabi selama di Madinah begitu menunjukkan dimensi ini. Rumah yang dibangun Nabi bukanlah istana, sebagaimana istana pemerintahan dan kerajaan modern. Rumah Nabi adalah rumah yang sangat sederhana, begitu pula masjid yang dibangun adalah masjid yang amat sederhana.

Nabi hendak memberikan pelajaran yang sangat berharga, bahwa jantung dari kepemimpinan adalah totalitas pengabdian kepada umat. Salah satu karakter dan keteladanan yang ditunjukkan Nabi adalah kesedehanaan dan menjauhi kemewahan. Bahkan, harta Nabi diperuntukkan kepada umatnya. Nabi memilih untuk tidak makan, sehingga umat yang kelaparan mendapatkan makanan yang cukup bagi mereka.

Asketisme merupakan perangai yang harus dimiliki oleh setiap muslim, terutama para pemimpin. Jika seandainya para pemimpin negeri ini mempunyai asketisme, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi, maka korupsi akan dapat diatasi. Sebab akar korupsi yang paling nyata adalah munculnya nafsu serakah untuk mempunyai harta dengan menggunakan cara-cara yang melanggar aturan dan amanat rakyat.

Pada masa kontemporer begitu banyak pihak yang ingin mengambil inspirasi dari Madinah. Uniknya, semua pihak yang saling bertentangan ideologinya pun ingin menjadikan Madinah sebagai titik tolak. Reza Aslan dalam No god but God memberikan sebuah pemaparan yang menarik. Kelompok puritan ekstremis menganggap pandangan dan sikap keberagamannya diinspirasikan oleh kehidupan Nabi di Madinah. Begitu pula mereka yang beraliran moderat juga memandang Madinah sebagai salah satu bentuk sikap moderat dan wajah modernitas islam. Kehidupan Muhammad SAW di Madinah telah memberikan inspirasi bagi kehidupan yang toleran dan menjunjung tinggi kesetaraan.

Madinah Sebagai Kota Iman dan Pemerintahan Nabi

Perbedaan pandangan seperti diatas menarik untuk dicermati. Tetapi, terlepas dari perbedaan yang terjadi, yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa umat islam dapat berperan dalam membangun peradaban umat, bukan justru menghancurkannya. Tindakan sebagian umat yang cenderung destruktif telah menyebabkan citra islam kurang positif. Hal ini membutuhkan keseriusan, kesetiaan, dan kesejatian dari seluruh pihak untuk menggali nilai-nilai yang konstruktif bagi kehidupan modern yang demokratis dan toleran.

Madinah telah menyediakan pesan moral dan dokumen teologis yang sangat penting untuk membangun gairah kehidupan umat yang maju dan berperadaban. Keteladanan Nabi dalam membangun Madinah yang berasaskan nilai-nilai keislaman universal patut dijadikan contoh, terutama dalam konteks keindonesiaan. Nilai-nilai kebangsaan, sebagaimana tertuang dalam pancasila dan UUD 1945 harus mendapat dukungan moral dari ajaran Nabi di Madinah.

Muhammad SAW akan selalu hadir dalam diri setiap muslim. Dan kehadiran tersebut akan sangat bermakna dan bermanfaat jika melalui pemahaman yang mendalam terhadap perjalanan hidup dan ajarannya yang terbentang luas di alam raya ini. Ziarah ke Madinah melalui buku ini merupakan salah satu cara untuk menjadikan kehadiran Nabi semakin bermakna.

Dengan demikian, kehidupan Nabi di Madinah telah meletakkan fondasi yang sangat kuat. Dan fondasi tersebut diharapkan dapat menjadi teladan yang baik untuk mewujudkan kehidupan sosial yang berkeadaban. Ziarah ke Madinah akan terasa semakin bermakna. Jika nilai-nilai diatas dapat diterjemahkan dalam tindakan. Dimulai dari ruang lingkup yang paling kecil, lalu kemudian dikembangkan dalam konteks berbangsa dan bernegara. Allahumma shalli wa sallim ala sayyidina wa ala alaihi wa ashabihi ajma’in.

Madinah Sebagai Kota Iman dan Pemerintahan Nabi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *