Kehidupan Nabi Muhammad di Madinah.

umroh-murah-bekasi-di-masjid-nabawi

Kehidupan Nabi Muhammad di Madinah. Kehidupan yang dikembangkan Muhammad SAW di Madinah adlaah kehidupan yang menjunjung tinggi moralitas. Yang dimaksud dengan moralitas adalah nilai-nilai yang mampu memperkukuh sendi-sendi relasi antara individu dan kelompok dalam sebuah masyarakat. Lebih tepatnya, moralitas yang dapat merajut hubungan sosial.

Kehidupan Nabi Muhammad di Madinah

Kejujuran merupakan salah satu bentuk moralitas yang harus dimiliki sebuah bangsa atau masyarakat. Yang dimaksud kejujuran adalah kesesuaian antara ucapan dan laku. Dalam bahasa modern dikenal dengan integritas. Seseorang yang mempunyai integritas akan selalu  berusaha untuk menjadikan kebenaran dan kebajikan sebagai tindakan hidupnya, sehingga menjadi laku yang mampu mewujudkan perubahan ke arah yang lebih baik.

Dalam membangun sebuah komunitas dan lingkaran umat islam, Nabi menekankan pentingnya moralitas ini. Diantara sosok yang dikenal mempunyai integritas yang sangat tinggi, yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq. Sebab itu, Abu Bakar dipercaya Nabi untuk mendampinginya selama hijrah dan ditunjuk sebagai imam shalat di saat beliau dalam keadaan sakit keras.

Para Nabi lainnya juga dikenal sebagai sosok yang menjunjung tinggi kejujuran dalam kehidupan mereka. Nabi Idris (QS. Maryam [19]: 56), Nabi Ismail (QS. Maryam [19]: 54), Nabi Musa (QS. Al-A’raf [7]: 105) dan Nabi Yusuf (QS. Yusuf [12]: 51) juga dikenal sebagai orang-orang yang jujur. Mereka adalah pemimpin yang menjadikan ucapan dan laku sebagai keteladanan bagi umatnya.

Kejujuran menjadi penting, karena seseorang akan dipercaya oleh orang lain jika memiliki moralitas tersebut. Sebaliknya, jika sering berbohong kepada publik, maka akan ditinggalkan umatnya. Dan hal itu akan menyebabkan rapuhnya sendi-sendi tatanan sosial. Madinah dibangun Nabi oleh moralitas publik, yaitu kejujuran. Nabi bersabda, Tinggalkan sesuatu yang menjadikanmu bimbang pada sesuatu yang tidak menjadikanmu bimbang. Jujur adalah fondasi kebahagiaan, sedangkan dusta adalah kebimbangan (HR. Turmudzi).

Yang tidak kalah penting adalah kesabaran. Yang dimaksud dengan sabar adalah menahan diri untuk melakukan tindakan-tindakan diluar batas yang menyebabkan kerugian bagi diri sendiri dan orang lain. Umat islam diperintahkan oleh Tuhan untuk menjadikan kesabaran sebagai kekuatan untuk membangun peradaban. Bahkan didalam Al Quran Allah SWT berfirman, Wahai orang-orang yang beriman hendaklah kalian memohon pertolongan dengan menegakkan kesabaran dan shalat (QS. Al-Baqarah [2]: 153).

Kehidupan Nabi di Mekkah dan Madinah dibangun diatas moralitas tersebut. Di saat para sahabat menderita penyakit demam berat, Nabi menghibur mereka agar bersabar. Begitu pula mereka yang merasakan kangen dan rindu mendalam kepada Mekkah setelah hijrah ke Madinah, selalu dihibur agar tetap mempunyai kekuatan untuk melanjutkan sebuah misi mulia untuk menyebarkan panji-panji ketauhidan dan kedamaian.

Keberhasilan Nabi di Madinah merupakan buah dari kesabaran yang dicontohkan beliau kepada seluruh pengikutnya. Nabi telah berhasil meredam emosi yang meledak-ledak yang dimiliki oleh Umar bin Khattab dan Hamzah. Sebelum memeluk islam, keduanya adalah sosok yang dikenal sebagai pemaran dan temperamental. Tetapi setelah memeluk islam, mereka berubah seratus persen dan memahami pentingnya proses dalam mewujudkan cita-cita bersama.

Didalam Al Quran Allah SWT berfirman, Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang sabar. Yaitu mereka yang apabila mendapatkan musibah, mereka berkata: Sesungguhnya kami adalah milik Allah SWT dan kepada-Nya akan berpulang. Mereka akan mendapatkan shalat dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk (QS. Al-Baqarah [2]: 155-157).

Selama berada di Madinah, umat islam menghadapi berbagai cobaan. Tetapi semua itu dapat dilalui dengan saksama, karena Nabi telah membangun fondasi kesabaran sedemikian rupa bagi para pengikutnya. Mareka mengikuti dan mencermati setiap ungkapan dan tindakan Nabi, lalu mereka jadikan itu sebagai teladan bagi diri mereka sendiri. Sebab itu, dalam sebuah hadisnya disebutkan, sabar adalah pakaianku.

Sebuah peristiwa besar yang dicatat dalam sejarah akibat dari hilangnya kesabaran para pengikutnya, yaitu peristiwa perang uhud. Mereka tergoda untuk meninggalkan lereng-lereng bukit yang sudah dijadikan Nabi sebagai strategi utama. Konsekuensinya, umat islam balik diserang oleh musuh, sehingga menyebabkan sebagian sahabat meninggal dunia.

 

Allah SWT berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman hendaklah kalian memohon pertolongan dengan menegakkan kesabaran dan shalat.”

(QS. Al-Baqarah [2]: 153).

Kehidupan Nabi Muhammad di Madinah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *