Berziarah Ke Masjid Nabawi Bersama Umroh Murah Bekasi

masjid-nabawi

 

Berziarah Ke Masjid Nabawi. Bagi setiap peziarah, ada beberapa etika yang harus diperhatikan manakala berkunjung ke Masjid Nabawi. Pada dasarnya, etika tersebut hendaknya juga diterapkan tidak hanya terbatas pada Masjid Nabawi saja, tetapi juga pada rumha-rumah Allah SWT lainnya.

Adapun etika-etika Berziarah Ke Masjid Nabawi antara lain:

  • Membersihkan diri dan berhias. Sudah selayaknya bila kita hendak beribadah, membersihkan diri terlebih dahulu dan berhias. Berhias disini berarti menyiapkan diri dengan sebaik-baiknya diantaranya dengan memakai pakaian yang paling baik yang kita miliki, yakni pakaian yang bersih dan sopan tanpa harus berlebih-lebihan. Allah berfirman dalam QS. Al-A’raf [7]: 31, Wahai anak Adam, gunakanlah pakaianmu yang indah setiap memasuki masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. Sebelum berangkat ke masjid sebaiknya hindarilah memakan makanan yang berbau tajam yang dapat meninggalkan bau tak sedap. Hal ini tentu saja bertujuan untuk kenyamanan kita dalam beribadah, juga agar tidak mengganggu kenyamanan beribadah para peziarah lainnya. Nabi bersabda, Barangsiapa memakan bawang merah dan bawang putih, sebaiknya meninggalkan masjid kami dan berdiam diri di rumah”. (HR. Al-Bukhary).
  • Dianjurkan berangkat lebih awal. Para peziarah disunnatkan untuk berangkat lebih awal ke masjid ini dengan tujuan agar mendapatkan tempat di shaf pertama dan bila memungkinkan mendapatkan tempat di Raudha atau disekitarnya. Bila terlambat, ambillah tempat yang masih memungkinkan untuk dirinya tanpa harus melangkahi shaf-shaf jemaah lainnya. Dan janganlah duduk disekitar pintu-pintu masuk masjid maupun di jalur lalu lintas para jamaah selama tempat-tempat didalam masjid masih lapang dan kosong. Hal ini bertujuan agar tidak menyulitkan para jemaah lainnya untuk mencapai tempat-tempat kosong yang masih tersedia didalam masjid.

Dalam sebuah riwayat, Abdullah ibn Basar mengatakan bahwa pada hari jumat datang seorang lelaki dan melangkahi kumpulan shaf jamaah, ketika itu Nabi sedang berkhutbah. Kemudian Nabi bersabda, Duduklah! Sesungguhnya kamu telah menyusahkan dan kamu terlambat (HR. Imam Ahmad dan Abu Daud). Hadis ini menyiratkan bahwa seseorang yang datang terlambat tetapi menginginkan tempat pada shaf-shaf terdepan justru malah menyusahkan dan mengganggu kenyamanan para jamaah lainnya dikarenakan melangkahi kumpulan shaf para jemaah tersebut.

  • Membaca doa masuk dan keluar masjid. Ketika memasuki masjid hendaklah mendahulukan kaki kanan seraya berdoa, begitu pula sebaliknya manakala keluar masjid hendaklah mendahulukan kaki kiri dan berdoa.

Adapun doa-doa Berziarah Ke Masjid Nabawi yaitu:

Doa masuk masjid

Allahummaf tah li abwaba rahmatika

Ya Allah, bukalah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu.

 

Doa keluar masjid

Allahumma inni as’aluka min fadhlika

Ya Allah, aku mohon kepada-Mu sebagian dari keagungan-Mu.

  • Tidak tergesa-gesa pada saat masuk ataupun keluar masjid. Biasanya pintu-pintu Masjid Nabawi baru dibuka  berbarengan dengan azan subuh yang pertama. Pada saat-saat tersebut, seringkali orang-orang berjejalan saling berlomba untuk bisa masuk lebih dulu menuju shaf-shaf pertama atau untuk sesegera mungkin berada di Raudha. Keadaan seperti ini seringkali menimbulkan hal-hal yang tidak pantas dengan kondisi yang seharusnya bila seseorang berada di dalam masjid, seperti berlarian agar bisa mendapatkan tempat pertama, perasaan marah bila didahului, bahkan tanpa sadar terlontar luapan emosi bila tersenggol atau tersikut oleh orang lain. Karena itu hendaklah memasuki masjid dengan cara yang sewajarnya dan dengan khusyu. Dengan demikian, kita akan terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan, dan justru kita akan bisa meresapi tujuan kita berziarah ke masjid tersebut. Nabi bersabda, Apabila kamu mendengar suara iqamat, maka melangkahlah untuk melaksanakan shalat dengan penuh ketenangan dan tidak tergesa-gesa. Bila kamu telah mencapai (shafnya), maka shalatlah. Dan bila kamu terlewat (rakaatnya), maka sempurnakanlah (shalatnya). (HR. Bukhari dan Muslim).
  • Tidak meninggikan suara ataupun berteriak didalam masjid.
  • Tidak pergi meninggalkan masjid setelah azan dikumandangkan. Apabila azan telah dikumandangkan, hendaklah orang-orang yang berada didalam masjid tidak pergi meninggalkan masjid. Kecuali apabila ada hal-hal yang mendesak yang tidak dapat ditunda dan mengharuskannya untuk keluar dari masjid. Meski demikian, bila memungkinkan tetap berusaha untuk bisa kembali ke masjid dan melaksanakan shalat berjamaah.
  • Tidak mengotori masjid. Islam mengajarkan kebersihan, begitu pula kepatutan untuk membersihkan dan menghiasi diri sebelum memulai ibadah, maka sudah sewajarnya bila tempat kita beribadah itupun senantiasa terjaga kebersihannya. Karena itu, hendaklah kita selalu berperilaku bersih dengan tidak mengotori masjid, bila perlu kita turut menjaga kebersihannya dengan menyingkirkan hal-hal yang dapat mengotori kebersihan dan kesucian masjid.
  • Melakukan shalat sunnat tahiyyatul masjid. Hal pertama yang kita lakukan ketika memasuki masjid adalah mengerjakan shalat sunnat tahiyyatul masjid. Lebih utama bila shalat tersebut dapat dilakukan di Raudha. Akan tetapi karena keterbatasan tempat tersebut, dan seringkali Raudha tidak pernah sepi dari pengunjung, maka shalat dapat dilakukan di sisi mana saja didalam masjid, tanpa harus memaksakan diri untuk mengerjakannya didalam Raudha. Berkaitan dengan shalat sunnat tahiyyatul masjid, Nabi bersabda, Apabila seorang diantara kalian memasuki masjid, maka shalatlah dua rakaat sebelum kalian duduk (HR. Bukhari dan Muslim).
  • Mengucapkan salam pada Muhammad SAW, dan pada kedua orang sahabatnya (Abu Bakar al-Shiddiq dan Umar ibn al-Khattab). Beberapa etika yang telah disebutkan sebelumnya adalah etika-etika yang tidak hanya dikhususkan pada Masjid Nabawi saja, tetapi juga berlaku di setiap masjid lainnya. Adapun mengucapkan salam pada Muhammad SAW dan kedua orang sahabatnya hanya ada di Masjid Nabawi, karena di masjid inilah Nabi beserta kedua sahabatnya Abu Bakar al-Shiddiq dan Umar ibn al-Khattab dimakamkan.

Karena itu bagi setiap peziarah yang berkunjung ke masjid ini, hendaknya mengunjungi makam beliau dan kedua sahabatnya seraya menyampaikan salam. Dalam QS. Al-Ahzab [33]: 56 disebutkan, Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. Abdullah ibn Dinar mengatakan, “Aku melihat Abdullah ibn Umar berhenti di sisi makam Nabi seraya bershalawat untuk beliau, dan bershalawat untuk Abu Bakar dan Umar”.

Berziarah Ke Masjid Nabawi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *